Belajar Dari Kearifan Para Sufi Dakwah Lelaku [Omongkan atau Sampaikan ? ]

In Memoriam : KH. Habib Dimyathi

9 April 2007 jam 06:57am Sybth Tarmasa

25 Rabiul Awwal 1419-1428 H.

Tak terasa sembilan tahun berlalu. Seperti baru kemarin suara gemuruh tangis tak terlihat, runtuh dari langit mengiringi kepergian sang kekasih ke haribaanNya. Sembilan tahun sudah, dan suara itu terus saja sayup terdengar menggugah ingatan saya.

Walau tak cukup terawat, pita ingatan ini masih mampu merekam saat-saat airmata terkuras habis menahan tangis. Tadinya, saya pikir suara itu berasal dari ribuan pelayat yang memadati halaman masjid dan sudut-sudut asrama. Tapi saat mata ini menyapu bersih setiap sudut, tempat di mana terdapat kerumunan pelayat, seperti tak terlihat tanda-tanda histeria tangis. Tangisan mereka hamya menyisakan lebam mata tanpa suara. Lalu, suara tangis siapa gerangan? yang gemuruhnya membuat bulu kuduk berdiri!

Saya masih terpaku di bawah pohon kenanga, sambil sesekali mencoba cari tau, suara apa itu? dari mana datangnya?. Akhirnya mata ini berhenti pada sosok dua perempuan paruh baya, yang kebetulan masih saudara sepupu beliau dan keponakannya. Melihat keduanya berbisik sesuatu, naluri keingin tauan ini mengajak saya mendekati kedua perempuan itu. Apa gerangan yang sedang dibicarakan?. ” Itu tadi suara para jin menangis histeris dalam doa meratapi kepergiannya”, demikian penjelasan sang keponakan pada buliknya. Walau antara percaya dan tidak, pernyataan itu cukup melegakan. Setidaknya ada orang lain yang juga mendengar suara yg juga terdengar oleh pendengaran saya. Sebab, banyak juga org di sekitar saya tak mendengar fenomena itu.

Akhirnya, pada saat jenazah mulai diberangkatkan menuju maqbarah, saya turut menghantar sambil berharap menemukan jawaban yang lebih konkrit, agar tak ada lagi rasa penasaran dalam benak ini. Dalam perjalanan yang penuh emosi dan histeria, masih saja suara itu dengan jelas terngiang di telinga ini. Gemuruhnya berdesakan dengan suara-suara ritihan tahlil dan tangis peziarah.

Sampai pada selesainya prosesi pemakaman, saya tak menemukan apapun, kecuali tanda tanya besaryang hingga kini belum terjawab. Sebuah misteri yang mungkin akan tetap demikian adanya. Barangkali seperti itu cara Tuhan mengingatkan saya akan kemuliaan orang-orang yang dikasihiNya.

Tulisan ini memang tak sedikitpun menyentuh masalah kehidupan pribadi beliau, walau banyak hal yang sebenarnya bisa penulis ceritakan. Demi menghindari kekeliruan karena keterbatasan penulis, tulisan di atas lebih bertujuan untuk mengingatkan kita, bahwa kemuliaan harus menjadi cita-cita hidup agar saat ajal menjemput, seluruh makhluk yang ada di langit dan di bumi menghantar kita dengan doa-doa. AMIEN.

Entry Filed under: Artikel Islami

Leave a Comment

You must be logged in to post a comment.

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Pages

Calendar

September 2010
S A S S R K J
« Sep    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Most Recent Posts