<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress/2.0.4" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
<channel>
	<title>Comments for Mimbar Attarmasie</title>
	<link>http://www.tremas.net/mimbar</link>
	<description>sorogan Online Santri Tremas</description>
	<pubDate>Fri, 10 Sep 2010 07:57:40 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.0.4</generator>

	<item>
		<title>Comment on Adzan Jum&#8217;at dua kali tidak mengubah sunah Rasul? by masoed el-boerhamy</title>
		<link>http://www.tremas.net/mimbar/?p=14#comment-3</link>
		<pubDate>Tue, 13 Feb 2007 12:19:45 +0000</pubDate>
		<guid>http://www.tremas.net/mimbar/?p=14#comment-3</guid>
					<description>lha wong sudah jelas banget to mas bahwa kita disusruh oleh sayyidina muhammad s.a.w untuk mengikuti sunnahnya dan sunnah khulafaurrasidiin al mahdiyyiin, siapa itu sayiidina utsman r.a....??
kita semua sudah tau bahwa beliau adalah khalifah sayyidina muhammad s.a.w.
ambil agama jangan setengah2 donk ah.
take it all or leave it all.
di setiap zaman/masa Allah s.w.t menurunkan khalifah di bumi ini seacar istimrar, terus menerus.
siapa yang menjaga kemurnian al-qur'an?
jelas Allah, tapi melalui perantara para wali-Nya (setelah intiqalnya sayyidina Muhammad s.a.w)
itu aja repot......
agama islam itu ibarat burtuqal.
pada zaman rosulullah s.a.w beliau menanam pohonnya, diteruskan pada zaman sahabat burtuqal itu berbunga, pada zaman tabi'in bunga itu berbuah, pada zaman sekarang pohon itu berbuah, wali allah memetiknya, membuatnya vitamin c, asyir, nutrisari dll.
wah sudah lah, kok jadi melebar begini..nanti kalo saya teruskan sampe habis ini halamanya.
udah dulu ya.
bye</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>lha wong sudah jelas banget to mas bahwa kita disusruh oleh sayyidina muhammad s.a.w untuk mengikuti sunnahnya dan sunnah khulafaurrasidiin al mahdiyyiin, siapa itu sayiidina utsman r.a&#8230;.??<br />
kita semua sudah tau bahwa beliau adalah khalifah sayyidina muhammad s.a.w.<br />
ambil agama jangan setengah2 donk ah.<br />
take it all or leave it all.<br />
di setiap zaman/masa Allah s.w.t menurunkan khalifah di bumi ini seacar istimrar, terus menerus.<br />
siapa yang menjaga kemurnian al-qur&#8217;an?<br />
jelas Allah, tapi melalui perantara para wali-Nya (setelah intiqalnya sayyidina Muhammad s.a.w)<br />
itu aja repot&#8230;&#8230;<br />
agama islam itu ibarat burtuqal.<br />
pada zaman rosulullah s.a.w beliau menanam pohonnya, diteruskan pada zaman sahabat burtuqal itu berbunga, pada zaman tabi&#8217;in bunga itu berbuah, pada zaman sekarang pohon itu berbuah, wali allah memetiknya, membuatnya vitamin c, asyir, nutrisari dll.<br />
wah sudah lah, kok jadi melebar begini..nanti kalo saya teruskan sampe habis ini halamanya.<br />
udah dulu ya.<br />
bye
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>Comment on &#8220;Hakekat inti ketauhidan/keimanan kepada Alloh SWT&#8221; by masoed el-boerhamy</title>
		<link>http://www.tremas.net/mimbar/?p=15#comment-2</link>
		<pubDate>Mon, 12 Feb 2007 21:09:26 +0000</pubDate>
		<guid>http://www.tremas.net/mimbar/?p=15#comment-2</guid>
					<description>Shahib al-Samahah (Maulana Syekh Mukhtar ra.) mendefinisikan tauhid secara komprehensif : "Tanzih al-Ahad an al-adad wa Tanzih al-Wahid an al-ta'addud" (membersihkan keesaan dzat dari bilangan, dan membersihkan sifat yang tunggal dari keterbilangan). Artinya : Ahadiyyah (keesaan) yang ada pada Tuhan tidak serupa dengan makhluk-Nya dan Wahidiyyah (sifat tunggal)-Nya pun demikian. Dengan kata lain, setiap manusia memiliki ahadiah yang berupa sidik jari pada dirinya, tapi ahadiah tersebut tidak seperti ahadiah Allah yang mutlak. Seluruh sifat yang melekat kepada-Nya pun boleh dilekatkan pada manusia, terkecuali Allah dan al-Rahman, namun sifat-sifat Tuhan bersifat absolut dan tunggal.
Mungkin terbersit dalam benak kita, benarkah demikian? Shahib al-Samahah menggagas konsep Muqtadlayat al-Uluhiyah (Kriteria Tuhan) yang akan menjernihkan pikiran kita dalam membedakan antara Tuhan dan makhluk-Nya. Kriteria tersebut adalah : al-Sabq (dahulu dan tidak ada yang mendahului; bebas ruang dan waktu), al-Ithlaq (mutlak), al-Dzatiyyah (Esa dzat-Nya; tidak ada yang mengajari-Nya), dan al-Sarmadiyyah (kekal). Keempat kategori tersebutlah yang membedakan antara Tuhan dengan selain-Nya
Sifat al-Khaliq misalnya, bisa kita lekatkan pada diri Saidina Isa as. sebagaimana al-Qur'an meyebut "Inni akhluqu lakum min al-thin", hanya saja sifat khaliq yang melekat pada Saidina Isa tentu tidak memenuhi kategori di atas. Sebab penciptaan yang melekat pada diri Saidina Isa terbatas (muqayyad) dan tidak muthlaq, telah didahului (masbuq) tidak sabiq, tidak tunggal (dzatiy); bukan murni dari dirinya sendiri, tapi ada yang mengajarinya (muktasab). Dan tidak langgeng atau tidak memenuhi kategori sarmadiyyah.
Lebih lengkapnya kunjungi www.burhamindo.co.nr</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Shahib al-Samahah (Maulana Syekh Mukhtar ra.) mendefinisikan tauhid secara komprehensif : &#8220;Tanzih al-Ahad an al-adad wa Tanzih al-Wahid an al-ta&#8217;addud&#8221; (membersihkan keesaan dzat dari bilangan, dan membersihkan sifat yang tunggal dari keterbilangan). Artinya : Ahadiyyah (keesaan) yang ada pada Tuhan tidak serupa dengan makhluk-Nya dan Wahidiyyah (sifat tunggal)-Nya pun demikian. Dengan kata lain, setiap manusia memiliki ahadiah yang berupa sidik jari pada dirinya, tapi ahadiah tersebut tidak seperti ahadiah Allah yang mutlak. Seluruh sifat yang melekat kepada-Nya pun boleh dilekatkan pada manusia, terkecuali Allah dan al-Rahman, namun sifat-sifat Tuhan bersifat absolut dan tunggal.<br />
Mungkin terbersit dalam benak kita, benarkah demikian? Shahib al-Samahah menggagas konsep Muqtadlayat al-Uluhiyah (Kriteria Tuhan) yang akan menjernihkan pikiran kita dalam membedakan antara Tuhan dan makhluk-Nya. Kriteria tersebut adalah : al-Sabq (dahulu dan tidak ada yang mendahului; bebas ruang dan waktu), al-Ithlaq (mutlak), al-Dzatiyyah (Esa dzat-Nya; tidak ada yang mengajari-Nya), dan al-Sarmadiyyah (kekal). Keempat kategori tersebutlah yang membedakan antara Tuhan dengan selain-Nya<br />
Sifat al-Khaliq misalnya, bisa kita lekatkan pada diri Saidina Isa as. sebagaimana al-Qur&#8217;an meyebut &#8220;Inni akhluqu lakum min al-thin&#8221;, hanya saja sifat khaliq yang melekat pada Saidina Isa tentu tidak memenuhi kategori di atas. Sebab penciptaan yang melekat pada diri Saidina Isa terbatas (muqayyad) dan tidak muthlaq, telah didahului (masbuq) tidak sabiq, tidak tunggal (dzatiy); bukan murni dari dirinya sendiri, tapi ada yang mengajarinya (muktasab). Dan tidak langgeng atau tidak memenuhi kategori sarmadiyyah.<br />
Lebih lengkapnya kunjungi <a href='http://www.burhamindo.co.nr' rel='nofollow'>www.burhamindo.co.nr</a>
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
</channel>
</rss>
