Posts filed under 'Kisah Tauladan'

Belajar Dari Kearifan Para Sufi

Maaf bila cerita ini kedengaran kuno dan membosankan. Seorang teman pernah berkomentar, ” Sudahlah, tak usah kau ceritakan lagi, bosan mendengarnya”. Ada juga yang bilang, ” Apa tidak ada cerita yang lebih baru ?”. Tapi tidak sedikit yang menginginkan cerita ini dikemas lebih menarik agar tetap diminati dan bisa memberi kesadaran baru bagi si pembaca.

Walau cerita ini diadaptasi dari sumber-sumber sekunder, seperti buku cakrawala sufi 1 ( Anand Krishna), tetap tidak mengurangi esensi dari cerita itu sendiri dan tetap memiliki cita rasa beda, sebagaimana cerita sufi pada umumnya, yang tak ubahnya seperti oase di padang sahara, mampu memberi gairah baru menuju penemuan diri, kesadaran diri dalam memaknai hakekat hidup.

Sang Bunga Mawar.

Diantara sekian banyak tokoh sufi, Syaikh Abdul Qadir Jailani barangkali yang paling akrab dengan dengan indra pendengaran kita. Suatu ketika, saat beliau hendak berkunjung ke kota Baghdad, segenap penduduk kota itu dihinggapi rasa cemas. Sebagai kota yang dikenal banyak dihuni para cendekiawan, Ulama dan Ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu, kedatangannya jelas tak dibutuhkan. Anggapan ini muncul karena ketakutan yang berlebihan, bahwa kehadirannya akan menjadi pesaing bagi mereka.

Atas desakan ilmuwan dan agamawan, pemegang otoritas kota kemudian mengutus seorang kurir untuk mengantarkan cawan berisi air agar disampaikan kepada Syaikh Abdul Qadir yang masih berada di luar kota. Cawan berisi air itu sebagai tanda bahwa kota Baghdad sudah penuh sesak dengan para ilmuwan dan tokoh agama hingga kehadirannya tidak dibutuhkan.

Beliau paham betul pesan di balik secawan air yang dikirim kepadanya. Ia kemudian mengambil setangkai  setangkai bunga mawar dan meletakkannya di atas air, seraya meminta si kurirmembawa kembali cawan itu. ” Tolong kembalikan cawan ini kepada mereka yang mengutusmu kemari”. Demikian pesan Syaikh kepada si kurir

Sesampai di kota, para cendekiawan dan pemuka agama dibuat terkejut melihat si kurir membawa kembali  cawan tersebut. Menyaksikan keelokan bunga mawar di atas cawan dan harum wangi yang dibawanya, membuat mereka sadar bahwa kehadiran seorang bijak bagai bunga mawar yang tak akan membebani siapapun. Kebijakan seorang sufi justru menawarkan kegairahan dan kesegaran baru, bagai air yang tak lagi tawar karena aroma mawar di atasnya.

Bekerja Tanpa Pamrih.

Cerita ini cukup populer di dunia sufistik. Dalam sebuah perjalan sebuah inspeksi ke beberapa daerah, seorang khalifah sebuah negri melihat seorang petani tua sedang menyirami tanaman anggur di kebunnya. Sang khalifah kemudian menghampiri si petani dan menegur, ” Tahukah bapak, bahwa jenis anggur yang bapak tanam adalah jenis anggur yang khas dan langka serta tidak akan berbuah sebelum usia di atas 6 tahun”. Si petani menjawab, ” Benar paduka. Jenis anggur ini memang lama berbuahnya, bahkan bisa sampai 7 tahun baru berbuah”. ” Dan kau tetap tanam?”, tanya khalifah heran. ” Ya paduka, karena jenis ini adalah jenis anggur terbaik”, jawab si petani.

Khalifah kemudian turun dari kuda menghampiri petani sambil menepuk pundaknya dan mengatakan, ” Temanku, Maha Besar Allah. Semoga Allah menganugerahimu usia panjang. Karena bagaimanapun, bisa jadi lusa kita tak pernah lagi bertemu. Jadi, apa sebenarnya yang membuat bapak tetap menanam anggur yang belum tentu bapak nikmati?”.

“Paduka, memang benar adanya. Mungkin saya tak akan menikmati hasil tanaman ini. Bisa jadi saat tanaman ini berbuah saya sudah meninggal. Namun kematian saya tidak berarti berakhirnya kehidupan dunia ini.. Anak cucu saya, tetangga dan teman-teman saya, diantara mereka pasti ada yang masih hidup. Kelak merekalah yang akan menikmati hasilnya”. Demikian penjelasan petani kepada sang khalifah.

Sang khalifah terharu.” Maha Besar Allah. Kau berhati mulia. Kau melakukan sesuatu tidak untuk dirimu sendiri. Kau bekerja tanpa pamrih. Teman, kelak jika tanaman ini berbuah dan kita masih hidup, bawakan saya sekeranjang hasil tanamanmu, sebagai saksi persahabatan kita ini”. Begitu khalifah menutup perjumpaannya dengan si petani tua itu dan pergi melanjutkan perjalanan.

Konon beberapa tahun kemudian, tanaman anggur itu berbuah. Petani itu kemudian menyiapkan sekeranjang anggur untuk sang khalifah, sebagaimana permintaannya dulu. Diceritakan oleh para ahli hikmah, khalifah sangat menghargai ketulusan jiwa petani itu. Ia sangat mengagumi kedermawanan dan perbuatannya yang tanpa pamrih. Setelah memindahkan anggur ke wadah yang terbuat dari emas, beliau memerintahkan kepada mentrinya untuk mengisi keranjang itu dengan emas permata dan memberikannya kepada si petani, sebagai imbalan atas kebaikannya yang memberi inspirasi bagi sebuah keteladanan yang patut ditiru.

Sementara itu, cerita ini tersebar ke seantero negri dengan berbagai macam versi. Bahkan beredar cerita bahwa khalifah sangat menyukai jenis anggur yang dihadiahkan kepadanya, hingga berani membayar mahal.

Seorang petani lain, yang kebetulan mendengar cerita versi terakhir, langsung menyiapkan sekeranjang anggur jenis yang sama untuk dihadiahkan kepada khalifah. Dan sudah tentu, dengan harapan ia akan mendapatkan  seperti apa yang telah didapat petani tua itu. Sayang, ia tak mendapatkan apa yang diinginkannya. Khalifah memahami kekecewaan si petani dan berkata,”Petani tua itu bekerja tanpa pamrih. Kedatangannya kemari juga tanpa harapan apapun. Ia menghadiahkan anggur itu kepada saya. Kamu lain. Kamu kesini dengan harapan. Kamu berdagang dengan saya. Itulah letak perbedaannya. Namun demikian, saya tetap hargai lebih apa yang kau bawa. Janganlah mengharap imbalan yang sama dengan petani tua itu. Kamu belum, memiliki jiwa dan semangat bekerja tanpa pamrih”.

Add comment April 8th, 2007

Bermalam Di Rumah Seorang Ahli Surga

Anas Ibn Malik ra, menceritakan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Al-Nasa’i, perihal orang yang disebut-sebut sebagai penghuni surga.

Diceritakan oleh Anas ra, “Suatu hari kami bersama para sahabat yg lain duduk dalam satu majlis bersama Rasulullah SAW. Di tengah-tengah memberi wejangan, beliau berkata, “Sebentar lagi akan lewat di hadapan kalian seorang lelaki penghuni surga”. Tak lama berselang, tiba-tiba muncul seorang lelaki anshar dengan janggut masih basah oleh air wudlu. Ia berjalan dg tangan kiri menjinjing sandal”.

Keesokan harinya dalam kesempatan yg sama, Rasulullah kembali berkata begitu, “Akan datang seorang lelaki penghuni surga”. Tak lama kemudian, lelaki itu kembali muncul. Dalam kesempatan yg lain, untuk ketiga kalinya Rasulullah mengatakan hal yang sama.

Demi menghapus rasa penasaran, sahabat Abdullah Ibn Amr Ibn Al-Ash mencoba membuntuti lelaki anshar yang disebut-sebut Rasulullah sebagai penghuni surga. Ibnu Amr berhenti sejenak sambil berpikir mencari alasan yang tepat untuk dapat menyelidiki orang itu. Setelah menemukan alasan yang tepat, ia menghentikan langkah lelaki itu dan berkata, “Wahai kawan, dapatkah kamu memberi pertolongan? aku bertengkar dengan ayahku dan berjanji tidak akan menemuinya selama tiga hari. Maukah kamu memberi tumpangan selama tiga hari itu?”, pinta Ibn Amr. Setelah diperbolehkan, Ibn Amr mengikuti lelaki itu menuju rumahnya dan bermalam di rumah itu selama 3 hari.

Tujuan Ibn Amr bermalam tidak lain agar ia dapat melihat, apa gerangan ibadah yang dilakukan orang itu hingga Rasulullah menyebutnya sebagai penghuni surga. Sampai dengan malam ketiga, Ibnu Amr tak melihat sesuatu yg istimewa dari lelaki itu dalam ibadahnya, sampai ia hampir saja meremehkan amalan ibadah lelaki itu. Akhirnya Ibn Amr berterus terang kepadanya, “Hai hamba Allah, sebenarnya aku tidak sedang bertengkar dg ayahku dan juga tdk sedang bermusuhan. Aku hanya ingin membuktikan apa yang telah dikatakan Rasulullah tentang dirimu. Beliau katakan dalam sebuah majlis sampai 3 kali, “Akan datang seorang di antara kalian lelaki sebagai penghuni surga”. Aku ingin tau, apa amalan yang membuatmu demikian dan aku ingin menirukan agar bisa mencapai kedudukan seperti dirimu”.

Orang itu berkata, “Yang aku amalkan setiap hari tak lebih dari apa yang kau saksikan”. Saat Ibn Amr hendak berpamitan pulang, orang itu kembali berkata, “Demi Allah, amalku tidak lebih dari yang kau lihat. Hanya saja aku tak pernah menyimpan niat buruk terhadap sesama muslim ( juga yg lain). Aku juga tak pernah ada rasa dengki kepada mereka yang mendapat anugerah dan kebaikan dari Allah”. Mendengar pernyataan itu, Ibn Amr membalas, “Begitu bersihnya hatimu dari prasangka buruk dan perasaan dengki kepada orang lain. Inilah nampaknya yang membuatmu berada di tempat yang mulia itu. Sesuatu yang tak dapat aku lakukan”.

Hati yang bersih dari prasangka buruk dan perasaan dengki kepada sesama hamba Allah, terlihat sederhana. Tapi justru itulah yang sebenarnya paling sulit dilakukan. Barangkali kita mampu Qiyamullail, sujud, rukuk di hadapanNya, tapi amat sulit menghilangkan kedengkian kepada orang lain hanya karena perbedaan keyakinan, paham, golongan atau etnis. Juga kedengkian yang timbul dari apa yang Allah anugerahkan sesuatu kepada orang lain dan kita tak mendapatkannya. ” Inilah justru yang tidak dapat kita lakukan”, demikian kata Abdullah Ibn Amr Ibn Al-Ash.  ( Sumber bacaan : Hayat Al-Shahabah :2 )

Add comment April 8th, 2007


Pages

Calendar

September 2010
S A S S R K J
« Sep    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Posts by Month

Posts by Category