Posts filed under 'Artikel Islami'

Menyambut Idul Fitri 1 Syawal 1429 H/2008 M

AllahuAkbar, Allahu Akbar La Illaha Illahu Walla Hu Akbar Allahu Akbar Walilaahil Hamd

Hari raya Idul Fitri hanya tinggal menghitung hari. Semua umat muslim di dunia menyambutnya dengan suka cita, karena hari kemenangan dan kebahagiaan telah tiba.Di penghujung bulan suci ramadan ini, kita sebagai umat Islam, sungguh dapat merasakan betapa beratnya menjalani suatu ujian, yakni berpuasa sebulan penuh menahan haus dan lapar, dan tidak itu saja, yang paling berat adalah melawan hawa nafsu dengan berbagai godaan yang dirasakan begitu berat. Namun alhamdulillah kita semua telah berhasil melampaui semua itu, dengan menjadi pemenang pada hari yang fitri ini.

Selama sebulan penuh dibulan ramadan dengan melaksanakan berbagai amaliyah ramadan yang dibarengi dengan memperbanyak tasbihserta dzikir, melipat gandakan infaq dan sadaqah, termasuk membayar zakat Fitrah maupun zakat Mal, sehingga kita telah menjadi orang yang muttaqindi hari yang suci dan penuh kemenangan serta kebahagiaan ini. Namun dari pada itu, disamping kita bergembira saat ini, yang sangat penting adalah membuka pintu maaf selebar-lebarnya dan menghilangkan segala prasangka buruk antara sesama umat. Mari kita rayakan hari yang fitri ini, dengan tekad membersihkan diri, hati serta menghilangkansifat benci, iri hati, dengki, dan segala sifat-sifat tercela lainnya, serta menggantinya dengan marhamah dan mahabban dan kasih sayang untuk mendapatkan keridhoan Allah SWT, sehingga kita benar-benar menjadi orang muttaqin.

Pada konteks seperti inilah, letak dari pada hakekat serta makna dari Hari Raya Idul Fitri tersebut, karena dengan salin maaf-memaafkan diantara kita umat manusia, khususnya kaum muslimin atas segala kekhilafan, kesalahan dan kekurangan yang kita lakukan selama ini, baik yang di sengaja maupun tidak disengaja, maka di Hari Raya Idul Fitri semua itu, insya Allah SWT akan hapus, karena kita telah saling bermaaf-maafan, dan insya Allah telah membalasnya dengan keampunan atas segala dosa dan kekhilafan yang kita lakukan tersebut. Mudah-mudahan dengan ampunan Allah SWT tersebut, akan menjadikan kita sebagai hamba-Nya yang benar-benar bertaqwa dan beriman kepada-Nya.

Dalam bersukaria menyambut Hari Raya Idul Fitri ini, kiranya segala sikap dan perilaku kita benar-benar mencerminkan sebagai pribadi yang teguh dengan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Apalagi karena telah berhasil melampaui segala ujian dan cobaan selam bulan suci ramadan. Dengan berbekal itu, mari kita tingkatkan disiplin, pengendalian diri, toleransi serta kerja keras kita semua

Dengan idul Fitri 1429 Hijriah, dapat diambil berbagai nilai-nilai serta hikmah yang sungguh mulia,

Idul Fitri adalah hari kemenangan bagi umat Islam, apalagi dibarengi dengan bermaaf-maafan diantara sesama muslim. Oleh karena itu, Idul Fitri menjadi momentum penting dalam membangun rasa kepedulian kita semua,

Kepada kaum Muslimin yang akan melaksanakan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1429 Hijriah, agar dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dengan dibarengi rasa kekeluargaan dan ukuwah Islamiyah, sehingga dapat meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT.

Semoga Allah SWT, menerima segala amal ibadah puasa kita dalam menuju hari depan yang lebih baik. dan kita masih diberikan umur panjang dan kesempatan untuk berjumpa kembali dengan bulan suci Ramadhan yang akan datang.

Allahu Akbar. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd. Minal Aidzin Wal Faidzin.

Add comment September 28th, 2008

Marhaban Ya Ramadhan!

Bulan Ramadhan telah datang. Bulan yang oleh Allah subhanahu wata’ala dihimpun di dalamnya rahmah (kasih sayang), maghfirah (ampunan), dan itqun minan naar (terselamatkan dari api neraka). Bulan Ramadhan juga disebutdengan “shahrul Qur’an”, bulan diturunkannya al-Qur’an yang merupakanlentera hidayah ketuhanan yang sangat dibutuhkan umat manusia dalam membedakan mana yang baik dan mana yang buruk serta mana jalan yang benar dan mana jalan yang sesat.

Melalui puasa Ramadhan, Allah SWT menguji hamba-Nya untuk mengendalikan nafsu dan perutnya, serta memberikan kesempatan kepada kalbu untuk menembus wahana kesucian dan dan kejernihan rabbani. Puasa Ramadhan merupakan pokok pembinaan iman Islami, untuk menyempurnakan amal ibadah,untuk mendapatkan maghfirah (ampunan) dan ridlwan (keridlaaan) dari Allah Yang Maha Agung.

Ramadhan pada masa ini merupakan media utama pembinaan iman seorang mukmin, melalui ibadah puasa yang mempunyai dimensi pelatihan fisik (jasadiyah) dan metafisik (ruhiyah) yang diharapkan akan mengantarkannya menjadi seorang muslim yang sempurna. Firman Allah SWT dalam QS Al Baqarah: 183-185, kutiba alaikumush shiyam (telah difardhukan puasa atasmu), dan faman syahida min kumusy syahra fal yashum (maka barangsiapa di antara kamu menyaksikan hilal bulan Ramadhan, maka berpuasalah) ,merupakan dalil pokok bagi kewajiban berpuasa.

Puasa Ramadhan juga merupakan pengendalian diri dari hegemoni nafsu syahwat dan pemisahan diri dari kebiasaan buruk dan maksiat, sehingga memudahkan bagi seorang hamba untuk menerima pancaran cahaya ilahiyah.Fakhruddin al-Razi menjelaskan dalam tafsirnya Mafatihul Ghaib, bahwa cahaya ketuhanan tak pernah redup dan sirna, namun nafsu syahwat kemanusiaan sering menghalanginya untuk tetap menyinari sanubari manusia, puasa merupakan satu-satunya cara untuk menghilangkan penghalang tersebut. Oleh karena itu pintu-pintu mukashafah (keterbukaan) ruhani tidak ada yang mampu membukanya kecuali dengan puasa.

Marilah kita bersiap-siap memasuki bulan Ramadhan ini dengan kesiapan diri yang prima, dengan perasaan yang tulus ikhlas untuk menjalankan ibadah-ibadah di bulan Ramadhan. Marilah kita mantapkan hati dan jiwa kita dalam memperoleh kemuliaan puasa Ramadhan, sehingga mengantarkan kita pada satu format kehidupan yang lebih baik. Bulan Ramadhan kita jadikan momentum pembersihan diri dari dosa dan angkara murka dan penyadaran hati nurani kemanusiaan kita. Puasa jangan hanya kita laksanakan dengan menahan diri untuk tidak makan dan minum, namun yang paling substansial adalah menjadikannya upaya pengekangan diri dari segala bentuk hawa nafsu yang merugikan manusia dan kemanusiaan itu sendiri.

Puasa Ramadhan merupakan kesempatan bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas dimensi keagamaannya. Pertama, dimensi teologis dan spiritualitas yang tercermin dalam komunikasi antara manusia dan Tuhannya, sehingga memungkinkan dalam diri semakin berkembang sifat-sifat ketuhanan yang sebenarnya sudah kita miliki, yakni sifat-sifat positif untuk berbuat

kebajikan dan tertanam kepekaan hati nurani dalam bertingkah laku.

Kedua, dimensi sosial. Yaitu tumbuhnya kesadaran sosial dalam batin kita untuk peduli bukan saja pada hal yang hanya berkaitan dengan aspek transendental dan ritual keagamaan, tetapi juga peduli dengan aspek-aspek sosial kemanusiaan. Kepedulian sosial bisa direfleksikan dengan keprihatinan terhadap kondisi sosial yang terdapat dalam realitas empiris. Kualitas kesadaran batin dapat diukur dengan tingkat kepedulian terhadap realitas sosial tersebut, seperti ketaatan kepada pemimpin, hormat dan berbakti kepada orang tua, menyantuni anak yatim dan orang-orang miskin,membela orang yang tertindas hak dan martabatnya, keberanian melakukan kontrol sosial dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Ketiga, dimenisi mental. Dengan berpuasa akan terwujud dalam diri kita mental tegar dan tahan banting, sehingga mampu untuk mengahadapi berbagai tantangan, cobaan, godaan, dan ujian dalam kehidupan ini. Kita senantiasa mampun untuk optimistis dalam berikhtiar dan berusaha untuk meraih kehidupan yang lebih baik dengan tetap mengacu pada nilai-nilai etika dan moral agama. Puasa juga akan melatih mentalitas kita untuk sportif dan jujur dalam menerima amanat dan mengemban tugas, menjauhi sikap pengecut dan khianat dan tidak mudah mengumbar emosi amarah dan permusuhan.

Keempat, dimensi etika. Dengan menjalankan ibadah puasa Ramadhan dengan benar dan berkualitas, maka akan tercermin dalam diri kita nilai-nilai etika dan moral agama yang sangat positif untuk diaktualisasikan dalam pola kehidupan kita sehari-hari, seperti:

(1) kemampuan menghadirkan alternatif-alternatif terbaik, dalam pola berpikir, bersikap, dan
bertingkah laku;

(2) kemampuan dalam mengendalikan diri terhadap keinginan-keinginan negatif, subjektivitas, maupun emosional destruktif. Dan kemampuan mengarahkan diri sendiri kepada kebenaran, sifat obyektif dan konstruktif;

(3) kemampuan untuk menahan diri dari jebakan materialistik dan hedonistik;

(4) kemampuan moralitas dalam melakukan tugas dan kewajiban melalui pertimbangan rasionalitas dan hati nurani.

Puasa Ramadhan dan serangkaian ibadah lain yang menyertainya selama sebulan penuh, merupakan “kawah condrodimuko” bagi seorang Muslim. Bulan Ramadhan adalah bulan untuk mendidik, melatih, menggembleng kepribadian seorang muslim untuk menjadi lebih baik dan pada gilirannya untuk menjadi seorang muslim yang sejati. Rasulullah bersabda: ‘Rugilah seorang hamba yang menemukan bulan Ramadhan dan ia tidak mendapatkan ampunan-Nya” .

Wallahu a’lam

Add comment Agustus 30th, 2008

Legalitas Poligami

بذا لمفرد مذكر أشر X بذى وذه تى تاعلى الأنثى اقتصر

Menggali pemahaman kontekstual bait diatas dapat menelorkan sebuah pengertian bahwa kalimat بذا لمفرد مذكر أشر memberikan pengertian satu orang laki-laki komparasinya adalah empat orang perempuan . sebagaimana yang terkandung dalam bait berikutnya yakni بذى وذه تى تاعلى الأنثى اقتصر . Ato dengan kata laen, satu laki-laki diperkenankan married dengan empat wanita.

Pengertian tersebut juga telah ditegaskan dalam Al-Qur’an sebagaimana ayatnya yang berbunyiمثنى وثلاث ورباع . Ayat tersebut melegalkan budaya poligami, bahkan budaya poligami ini telah berlangsung sebelum zamannya Nabi Muhammad SAW. Akhirnya budaya poligami masih terus berlangsung sampai zamannya Rosulullah hingga sekarang.

Islam menilai poligami merupakan langkah alternatif dan solusi efektif untuk membendung perilaku selingkuh para kaum Adam. Islam juga tidak serta merta melegalkan budaya poligami tanpa adanya prosedur dan mekanisme. Sebagaimana telah termaktub dalam Al-Quran فإن لم تعدلوا فواحدة

Namun dalam praktek sosial, budaya poligami menimbulkan polemik pro-kontra sebagian masyarakat, khususnya di Indonesia. Di negeri Q-ta, budaya poligami mempunyai konotasi yang negatif. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh para subyek budaya tersebut yang kurang ato kagak mampu berbuat adil. (So fikir seribu kali sebelum berbuat Men!)

Add comment Mei 22nd, 2007

Santri Pewaris Sang Kyai

وما يلى المضاف يأتى خلف X عنه فى الإعراب حذف

Sebagai figur yang menjadi suri tauladan dalam konteks kehidupan sosial maka eksistensi seorang kyai sangat urgen dalam sebuah komunitas. Figur kyai yang dipersonifikasikan مضاف dalam gramatikal bahasa arab, notabene figur yang lebih alim dalam ilmu keagamaan dan lebih beretiket dalam pengendalian emosionalnya. Beliau akan selalu ditaati semua fatwa dan mau’idhoh hasanahnya. Predikat مضاف yang ada pada figur kyai berarti orang yang menjadi sandaran dan tumpuan umat dalam menyelesaikan problematika sosial.

Performance kyai yang mempunyai kharisma tinggi akan selalu menjadi panutan dalam berucap dan bertindak. Figur kyai yang mempunyai ketinggian ilmu spiritual dinilai mampu memberi solusi problematika publik. Posisi kyai yang netral dan independen mampu menjembatani perbedaan ideologi umat.

Eksistensi seorang kyai dengan segala Low Profil-nya akan selalu dirindukan umat karena bagaimanapun juga, kyai merupakan pemimpin, pemersatu dan pembela umat. Sehingga bila kyai sudah tak mampu lagi meneruskan perjuangan mulianya maka harus ada penerus beliau.

Maka disini, santri selaku pewaris kyai, penerus visi dan misi kyai harus mampu meneruskan perjuangan besar nan suci beliau. Santri harus menjadi sosok yang kelak mampu mengganti posisi beliau dalam mengibarkan panji-panji religi.

Santri merupakan bagian utama dari generasi islami. Sehingga santri hendaknya menyiapkan dan menempa diri dalam hazanah keilmuan baik material maupun spiritual. Kedepan santri diharapkan minimal menjadi بدل بعض من كل dan maksimal menjadi بدل كل من كل serta jangan sampai menjadi بدل غلط . (Succes 2 U)

Add comment Mei 22nd, 2007

Larangan Ngampung

وفى اختيارلا يجئل المنفص X إذاتأت أن يجئ المتصل

Berangkat dari pendekatan kontekstual bait di atas, akan coba Q-ta adaptasikan dengan peraturan pondok yang mengintruksikan agar santri slalu komit dan konsis di pondok serta ngelarang perilaku “Ngampung”, yaitu maen ke kampung hingga ngeninggalin kegiatan wajib.

Dari bait وفى اختيارلا يجئ المنفصل dapat Q-ta asumsikan menjadi sebuah pengertian bahwa tindakan منفصل , yaitu santri yang memisahkan diri / keluar dari komplek pondok untuk maen di kampung hingga meninggalkan kegiatan merupakan larangan besar. Mengapa demikian?

Dengan semakin banyak frekuensi maen di kampung maka akan semakin banyak waktu yang terbuang percuma. Dan semakin banyak waktu yang terbuang percuma maka akan semakin banyak kerugian dan semakin banyak kerugian berarti semakin dekat dengan kegagalan, khususnya kegagalan dalam belajar.( If U think U can U can)

Pun indikasi negatif dari tindakan ngampung buanyak sekali, kayak sering absen dalam beberapa kegiatan baik klasikal, asrama, organisasi de el el serta berpotensi ngeganggu konsentrasi study bahkan santri yang terlalu banyak ngampung akan cenderung terisolasi dari pergaulan temen-temen santri laennya.(Kecian deh lu!)

Kunci sukses belajar adalah komitmen, konsisten plus konsentrasi dalam masa study, so pasti Antum akan ngeraih Happy Ending, amien.

Add comment Mei 22nd, 2007

Dakwah Lelaku [Omongkan atau Sampaikan ? ]

oleh: Dody Iskandar dinata
sumber: NU-Nihon@yahoogroups.com

Future world, post modern, syahdan suatu ketika berbagai bangsa dan agama termasuk pemeluk Islam berkumpul di suatu tempat. Dalam pertemuan itu para petinggi membuat suatu perlombaan barang siapa dalam tempo yang sesingkat-singkatny a mampu membuat bangunan tertinggi dengan fungsi kecanggihan, estetika cremona, durability dan safety, dengan bahan yang ringan low timbal maka bangsa atau agama itulah yang layak dinobatrkan sebagai yang terunggul. Start…Dorr. ..! maka perlombaan pun dimulai….riuh rendah para arsitek dan pekerja mulai terasa.

Ada yang menggunakan semacam logam super ringan dan super kuat berbahan unsur tanah yang diciptakan melalui proses rekonstruksi molekul cryogenic generasi kesembilan. Beberapa ahli biotehnologi menggunakan “bakteri”nya atom sebagai pengikat energi generator listrik yang selama ini didominasi bahan polutan dan sering bocor. Pakar pertanian bekerjasama dengan IT memakai ekstrak daun kelor yang menghasilkan cairan berisi kamar-kamar fragmentasi sempurna sebagai pengganti hardsik server sistem bangunan yang selama ini lebih berat dan besar. Pakar fisika merancang medan elektrostatis gravitasi yang disalurkan ke seluruh jendela sebagai pengganti kaca sehingga tak perlu repot-repot membersihkan dan pemandangan luar jendela lebih terasa hidup.

Beberapa ruang telah menggunakan AC hanya dengan tanaman yang dimodifikasi genetik sehingga mampu mengeluarkan okisgen dan menyerap karbondioksida ribuan kali lebih cepat dari tanaman yang ada saat ini.. Instalator listrik terlihat sedang memasang serat optik dan tabung cahaya sebagai penerangan yang sumber-sumber cahayanya diambil dari tempat-tempat ibadah dengan menggunakan reciever pemindai aura yang cara kerjanya mirip seperti filter air sehingga penerangan di dalam ruangan tidak menimbulkan panas, baik panas fisik, radiasi otak dan panas hati. Di lobi tampak seorang musisi menghibur para pekerja tanpa memakai alat musik dan speaker apapun. Lho ? ternyata musisi itu hanya menggunakan brain converter sebesar uang logam yang cara kerjanya hanya menancapkan resonator ke jidat. Alat itu berfungsi menyadap gelombang otak alpha, beta, delta dan sejenisnya yang kemudian dipantulkan lagi ke otak kanan sebagaikreator estetika dan dikonversi lagi menjadi rentang frekuensi ambang dengar manusia 20 Hz-20 kHz. Lalu output alat itu memancarkan sinar infra perak yang ditembakkan ke seluruh ruangan dengan pola gerak yang lembut, fleksibel dan bersifat dispersi omni sehingga pantulan-pantulan cahaya itu mampu membuat getaran suara yang sesuai dengan kehendak musisi. Dan masih banyak lagi yang bagi orang sekarang adalah sebuah kegaiban…. pokoknya semua ajaiblah….

Tiba -tiba dari arah timur terdengar teriakan kompak dari golongan kita, muslim: “… Alhamdulillah. .. sudah selesai….kita nomor satu…kita bisa istirahat… nyantai-nyantai. …”. “Gila ! Mereka sudah selesai… cepet banget…”, kata para pakar dari berbagai penjuru dunia. Para ahli terbengong-bengong melihat bangunan itu dari kejauhan tampak menjulang tinggi gagah putih bersih mengkilat ditimpa cahaya matahari. Saking tingginya bangunan itu seakan-akan menyentuh langit. Namun apa selanjutnya ? Ketika para ahli mendekati bangunan itu semuanya perlahan beringsut meninggalkannya sambil ngedumel: “Ah .. kalau cuman gitu sih ya dari tadi gua dah selesai ….”. “Lho ini bangunan paling oke yang pernah ada”, kata jubir kita. “Emangnya oke dari Hongkong !”, timpal mereka. Tak mau mengecewakan, para pemilik bangunan ini mengejar menyusul para pakar tadi sembari berargumentasi. .. “Pak Pakar, ini adalah sistem terbaik yang pernah ada. Toleransi kesalahan bangunan ini nol persen, safety dan manusiawi… higienis lagi.. Nih coba liat data-datanya. ..coba bandingkan rumus ini dengan punya sampeyan…” . Akhirnya para pakar dengan perasaan campur aduk antara mengakui, jengkel dan geli berucap…”Rumusnya emang gua akui top dah….tapi bangunannya itu lho….”. Para pakar pun berlalu dengan sedikit menahan geli takut menyinggung perasaan pemilik bangunan.

Oi…what’s wrong! Ternyata bangunan itu hanya terbuat dari kertas yang berisikan ceramah-ceramah, bahan seminar yang rata-rata berisi How to…yang baik dan benar, dan fatwa-fatwa yang ditumpuk sedemikian rapi sampai menjulang tinggi…

Cerita ini hanya sekedar potret kekinian dan gambaran masa depan umat muslim bila kita tidak berhijrah dari mental lama menuju pola-pola yang baru dalam merumuskan makna kekhalifahan. Dan mungkin menara gading itupun semakin hari akan semakin tinggi. Sabda Nabi sampaikan walau satu ayat menjadi alat pembenaran bahwa setiap muslim wajib ngomong ke kiri kanan tutur tinular menyampaikan teks-teks ayat suci. Dan anehnya siapa yang paling punya banyak referensi ayat dan hadits dinobatkan menjadi ustadz. Padahal tehnologi sekarang masalah teks Al Quran dan hadits tinggal install ke hp, kalau cari rujukan tinggal ketik, tekan search, muncullah semua topik itu. Anak-anak kita di TPQ pun bisa karena memang Al Quran tidak diciptakan dan dimonopoli untuk orang dewasa saja. Bahkan kebenaran yang disampaikan jiwa bersih anak kecil lebih terasa daripada orang dewasa yang isi kepalanya sudahpenuh intrik dan kepentingan.

Kalau saya ngomong:
“Friend, di Malang ada nasi goreng resek ( sampah ) yang rasanya tiada banding ueenaak tenaann. Pokoknya bumbunya itu bla… bla… bla… lauknya bla… bla… bla… cip dah….”.
“Ah nggak mungkin masak nasi sampah enak ?”
“Lha kamu nggak ngerti sih….”
“Wis pokoknya aku nggak percaya nasi sampahmu…. .”
“Lho ini lain…”
“Dasar gila….”
“Ya kamu yang gendheng…. ”
“Ente sudrun…”
“Kowe njileng…”
“Loe bahloel…”
“Sampeyan mengong….”
Dst…dst. berbalasan panjaaang… .

Dalam hal ini apakah saya ini dapat digolongkan telah menyampaikan atau sekedar mengomongkan ? Efektifkah ? Bandingkan bila begini: “Friend yuk ikut aku…”. Sepeda motor pun dipacu brrrmmm…sampailah di depan warung, pesan, makan, minum pulang. Pasti teman saya tanpa mempunyai banyak kosa kata akan cukup berucap: “Nggak enak” atau “Alhamdulillah kenyang, bener-bener ueenaak tenan nasi goreng ini walau sedikit aneh…”. Kosa kata yang panjang telah diringkas menjadi kosa rasa dan kosa makna yang mantap. Dia paham bahwa nasi goreng sampah hanyalah istilah yang menggambarkan nasi yang penuh suwar-suwir lauk pauk plus mie dan sayuran yang digoreng dalam wajan raksasa yang lebih mirip tong sampah. Tragisnya sekaligus sensasinya …. tempat itu memang bekas pembuangan sampah yang sudah disulap beralih fungsi menjadi warung. Dan … hmmm … nasi goreng ini benar-benar ada di Malang … sungguh.

Bayangkan seandainya umat muslim serentak berpuasa bicara tiga hari saja seperti Nabi Zakaria, lalu apakah benar-benar ada ayat yang tersampaikan selama tiga hari itu ? Bayangkan pula bila seorang itu tunarungu atau tunawicara sejak lahir apakah mereka tidak bisa menyampaikan ayat sebab si tunarungu tak pernah mendengar nama Allah sejak lahir, bagaimana pula pola pengucapan syahadat si tunawicara ? Apakah mereka bisa masuk Islam mengingat syarat awal adalah mengucap shahadat, harus fasih pula. Bagaimana cara menggetarkan hatinya dengan menyebut asma Allah wong tuli sejak lahir ? Lalu apa mereka tidak mampu menerima dan menyampaikan aqidah Islam kepada masyarakat umum ? Berarti Islam terbatas dong….diskriminat if…sama sekali nggak universal rahmatan lil alamin.

Ternyata pikiran kita sendiri yang membatasi. Akhirnya yang mulanya Islam merasa hanya untuk orang yang tidak cacat saja lalu berkembang hanya untuk orang pinter-pinter yang mampu mengembangkan ghazwul fikr dan ahli tafsir saja, membatasi lagi Islam hanya sanggup untuk kebenaran pemahaman timur saja, kota saja, Islam kaffah hanya ada di organisasi saya….dan tiba-tiba secara tak sadar diam-diam kita terselimuti rasa iblis dibalik logika “Saya adalah Imam Mahdi” karena hanya saya thok til yang bisa berfikir dan bertindak benar. Pokoknya semua harus mengikuti alur logika saya, titik. Diluar itu seesssaaat..

Lalu apakah Islam diciptakan untuk mempersulit perbuatan ibadah dan amal dengan mengangung-agungkan anggapan fikiran ? Kalau begitu kasihan dong orang yang dianggap bodoh sebab untuk mendapatkan tiket ke surga peluangnya kecil. Malah-malah yang masuk surga duluan orang Yahudi karena realitasnya logika otaknya paling encer sedunia.

Padahal Nabi Muhammad itu sangat sederhana. Beliau menyampaikan ayat dengan tindakan sehingga Allah sendiri menyebut beliau sebagai Qur’an hidup ( bukan tafsir Quran yang hidup ), realtime nya firman Allah. Mungkin hanya beliau lah yang sanggup menjembatani dan memaklumi perbedaan pendapat para sahabat dengan senyam-senyum. Tapi tak inginkah kita meniru Sang Uswatun Khasanah ?

Seandainya kita meneladaninya mungkin dunia ini lebih sedikit konflik karena setiap individu sibuk menggerakkan tangan dan kaki daripada sekedar menggerakkan mulut yang biasanya hanya berakhir dengan sikap keashabiahan. Masalahnya kata orang jadoel siapa yang lihai menggerakkan mulut dan fikiran maka ia lah yang menguasai dunia ( entah akhirat ), sedangkan yang nggak pandai ngomong dianggap bodoh karena manusia adalah satu-satunya mahluk yang bisa berkata-kata.

Bila seorang wanita menanam bibit-bibit pohon di belakang rumahnya, itu sudah lebih dari menyampaikan ratusan ayat secara realtime walaupun tidak pernah diomongkan. Ia bisa memandangjauh kedepan bagaikan memandang akhirat. Ia tidak pernah risau dan berkoar-koar tentang masa depan anak cucu karena saat ini telah menyampaikan ayat. Ia menjaga dengan pohonnya agarresapan air berfungsi dengan baik sehingga volume air itu tetap terpenuhi ketika pergantian musim tiba. Maka ketika musim kering tiba pohon itu menolong orang dengan cadangan airnya untuk mencukupi kebutuhan berwudhu demi sempurnanya syarat sahnya sholat. Ketika musim hujan pun orang-orang sekitar kampung tidak takut dilanda banjir karena pohon itu telah berfungsi dengan baik. Daun dan ranting yang berjatuhan dipunguti oleh para fakir miskin untuk dijual ke pasar. Pencukupan kadar oksigen dan penyerapan karbondioksida mampu memberi kenyamanan bernafas penduduk sekitar. Hawa yang sejuk membuat tenangnya fikiran dan rileksnya badan sehingga beribadah pun jadi nyaman. Buah-buah dihidangkan untuk anak-anaknya demi melatih agar tidak terbiasa hidup konsumtif jajan di luar yang belum tentu menyehatkan. Ia merawat tubuh anaknya dengan makanan sehat karena ia tahu anak adalah penerus perjuangan.

Begitu dahsyat multiplier tindakan sederhana ini. Perintah ayat Al Quran. untuk memelihara alam, menaungi tetangga, memberi nafkah pekerjaan fakir miskin, mengajari hidup sederhana, menjaga dan menyediakan fasilitas ibadah, telah tersampaikan dan terangkum dari sebuah “tindakan kecil” ini. Bagai biji yang tumbuh berkembang biak memenuhi jagad. Inilah sistem pahala…. Rrruaarrr biasa…Dahsyat …!!! Tapi apakah ini diakui sebagai sebuah jihad perjuangan menegakkan Al Quran oleh sebagian besar umat Islam terutama oleh orang-orang yang keminter dan sukaberkhutbah seperti saya yang lagi suka berkhotbah tulis menulis di Milis Dzukrullah tercinta ini ? Apa memang jihad memang telah terbonsai sedemikian rapi hanya menjadi urusan politik dan baris-berbaris yang pada akhirnya menjadikan Politik sebagai Tuhan dengan anggapan bila politik disembah maka seluruh kehidupan dapat dikuasai. Tidak berkacakah kita terhadap tragedi-tragedi internal Islam yang penuh darah ?

Oleh sebab itu saudara-saudaraku kaum muslim sekalian yang dirahmati Allah…. ( wuiih… gayanya seperti khotbah di mimbar beneran ) marilah kita mulai menyampaikan satu persatu ayat dengan tindakan nyata. Saya yakin seluruh saudaraku tercinta telah dibekali Allah kemampuan berkreasi yang berdampak multiplier luar biasa bagi kehidupan yang lebih baik. Nggak perlu minder walaupun ngaji baca Qur’an nya masih “grothal-grathul” . Nggak perlu takut mengucapkan Tuhan dengan lafadz “Awwoh” karena lidah Anda memang kelu nggak bisa diatur. Nggak perlu takut salah baca tulis wong nabi juga ummi kok. Bikoz whooot…? Sebab saya mengajak menyampaikan, bukan mengomongkan. …Wassalam dulu ya ceramahnya.. ..

Biarkan ulat berdakwah dengan berdiam diri berkepompong ria agar menjadi kupu yang indah…karena itulah ayat tamsil….
Biarkan lebah berdakwah membuat sarang dan madunya….karena itulah ayat fungsi…
Biarkan Nabi Khidir AS berdakwah dengan membocori perahu…karena itulah ayat non linear timeless…
Biarkan Nabi Musa AS berdakwah dengan cara terkapar di bukit Tursina….karena itulah ayat metodologi fana…
Biarkan Nabi Ibrahim AS berdakwah memotong kepala Ismail AS …karena itulah ayat isyarah agar kita tak mencintai perolehan kepala …Biarkan sang insinyur berdakwah dengan membangun infrastruktur agar ketika kita mendatangi pengajian tidak lagi melewati jalan terjal dan hutan lebat yang gelap….
Biarkan sang kuli menyampaikan ajaran Rasul dengan menyingkirkan kerikil dan paku di jalan di sepanjang hidupnya agar mobil bos kita nggak bocor supaya bisnis bos berjalan lancar dan akhirnya kita pun dapat cipratan bonus….
Biarkan bapak-bapak ibu-ibu bersyiar tirakat tidak tidur malam begadang di pasar demi mendapatkan sayuran terbaik untuk dijual kepada istri-istri kita…
Biarkan ahli fikih membuat rumusan-rumusan yang di simpan dalam ensiklopedia karena suatu saat kita butuh berkunjung ke perpustakaannya. ..
Biarkan sang musisi menyampaikan nada-nada Daud AS agar telinga kita yang seharian emosi mendengar suara mesin-mesin berisik tak beraturan menjadi tertata nyaman kembali…
Biarkan sang “pasukan kuning” menyampaikan ajaran kebersihan sebagian dari iman agar lingkungan kita terhindar dari berbagai macam najis yang dapat membatalkan ibadah….
Biarkan sang ahli wirid berdzikir berhari-hari tanpa putus di pojok ruang masjid agar ketika kita lupa disibukkan urusan dunia, Allah tidak menimpakan kiamat karena masih ada yang memanggil-manggilNy a…

Biarkan sang wanita itu menanam pohon kehidupan dari benih terkecil yang ia punya…teladanilah …
Biarkan sang… ( isi sendiri ) …. berdakwah dengan … (isi sendiri ) … agar …. (isi sendiri) …

Bayangkan bila mereka semua mogok satu bulan saja akibat kita sumpah serapahi, kita anggap tidak pernah berjihad menegakkan Al Quran…

Inilah Kehidupan. Tidak tergetarkah hati kita oleh semua ayat kejadian yang digerakkan oleh Al Hayyu, yang maha hidup dan menghidupi ini …. ? Maka bersaksilah dengan sebenarnyakesaksian… dan Iqra…bacalah. ..lalu dengarkan dakwah mereka dengan mata hati…telinga hati…
Maka berikrarlah ke dalam keheningan diri sendiri :

Bismillahirahmaanir rahiim…
Biarkan aku… ( nama Anda sendiri ) mengerjakan secara nyata…( bakat dan profesi Anda ) demi terwujudnya rahmatan lil alamin seperti yang dikehendakkan Allah. Inilah sejatinya ayat yang aku ( nama Anda ) sampaikan…

Tiba-tiba dunia ini menjadi sepi, tenang dan nyaman untuk dihuni karena semua orang pada malas berdebat…
Tiba-tiba kita semua telah pandai berdakwah dengan mulut terkunci karena kata-kata itu telah menyublim menjadi tetesan peluh dan air mata…
Tiba-tiba seluruh umat manusia berpayung kemakmuran dibawah kepemimpinan generasi anak-anak kita yang sholeh…

Tiba-tiba… lho… kemana ya orang-orang ….. tiba-tiba saya sendirian di sini …. nggak ada orang …. Gile gue ditinggal… Saya masih sibuk meracau mengigau di dunia fantasi sendirian, padahal semua pada sibuk bekerja bagai kaum muhajirin yang tak mau berpangku tangan pada kaum anshar demi kehidupan yang lebih baik…

Semoga bermanfaat
Dody Ide
[dody_ide@yahoo. co.id]

Add comment April 23rd, 2007

In Memoriam : KH. Habib Dimyathi

25 Rabiul Awwal 1419-1428 H.

Tak terasa sembilan tahun berlalu. Seperti baru kemarin suara gemuruh tangis tak terlihat, runtuh dari langit mengiringi kepergian sang kekasih ke haribaanNya. Sembilan tahun sudah, dan suara itu terus saja sayup terdengar menggugah ingatan saya.

Walau tak cukup terawat, pita ingatan ini masih mampu merekam saat-saat airmata terkuras habis menahan tangis. Tadinya, saya pikir suara itu berasal dari ribuan pelayat yang memadati halaman masjid dan sudut-sudut asrama. Tapi saat mata ini menyapu bersih setiap sudut, tempat di mana terdapat kerumunan pelayat, seperti tak terlihat tanda-tanda histeria tangis. Tangisan mereka hamya menyisakan lebam mata tanpa suara. Lalu, suara tangis siapa gerangan? yang gemuruhnya membuat bulu kuduk berdiri!

Saya masih terpaku di bawah pohon kenanga, sambil sesekali mencoba cari tau, suara apa itu? dari mana datangnya?. Akhirnya mata ini berhenti pada sosok dua perempuan paruh baya, yang kebetulan masih saudara sepupu beliau dan keponakannya. Melihat keduanya berbisik sesuatu, naluri keingin tauan ini mengajak saya mendekati kedua perempuan itu. Apa gerangan yang sedang dibicarakan?. ” Itu tadi suara para jin menangis histeris dalam doa meratapi kepergiannya”, demikian penjelasan sang keponakan pada buliknya. Walau antara percaya dan tidak, pernyataan itu cukup melegakan. Setidaknya ada orang lain yang juga mendengar suara yg juga terdengar oleh pendengaran saya. Sebab, banyak juga org di sekitar saya tak mendengar fenomena itu.

Akhirnya, pada saat jenazah mulai diberangkatkan menuju maqbarah, saya turut menghantar sambil berharap menemukan jawaban yang lebih konkrit, agar tak ada lagi rasa penasaran dalam benak ini. Dalam perjalanan yang penuh emosi dan histeria, masih saja suara itu dengan jelas terngiang di telinga ini. Gemuruhnya berdesakan dengan suara-suara ritihan tahlil dan tangis peziarah.

Sampai pada selesainya prosesi pemakaman, saya tak menemukan apapun, kecuali tanda tanya besaryang hingga kini belum terjawab. Sebuah misteri yang mungkin akan tetap demikian adanya. Barangkali seperti itu cara Tuhan mengingatkan saya akan kemuliaan orang-orang yang dikasihiNya.

Tulisan ini memang tak sedikitpun menyentuh masalah kehidupan pribadi beliau, walau banyak hal yang sebenarnya bisa penulis ceritakan. Demi menghindari kekeliruan karena keterbatasan penulis, tulisan di atas lebih bertujuan untuk mengingatkan kita, bahwa kemuliaan harus menjadi cita-cita hidup agar saat ajal menjemput, seluruh makhluk yang ada di langit dan di bumi menghantar kita dengan doa-doa. AMIEN.

Add comment April 9th, 2007

Belajar Dari Kearifan Para Sufi

Maaf bila cerita ini kedengaran kuno dan membosankan. Seorang teman pernah berkomentar, ” Sudahlah, tak usah kau ceritakan lagi, bosan mendengarnya”. Ada juga yang bilang, ” Apa tidak ada cerita yang lebih baru ?”. Tapi tidak sedikit yang menginginkan cerita ini dikemas lebih menarik agar tetap diminati dan bisa memberi kesadaran baru bagi si pembaca.

Walau cerita ini diadaptasi dari sumber-sumber sekunder, seperti buku cakrawala sufi 1 ( Anand Krishna), tetap tidak mengurangi esensi dari cerita itu sendiri dan tetap memiliki cita rasa beda, sebagaimana cerita sufi pada umumnya, yang tak ubahnya seperti oase di padang sahara, mampu memberi gairah baru menuju penemuan diri, kesadaran diri dalam memaknai hakekat hidup.

Sang Bunga Mawar.

Diantara sekian banyak tokoh sufi, Syaikh Abdul Qadir Jailani barangkali yang paling akrab dengan dengan indra pendengaran kita. Suatu ketika, saat beliau hendak berkunjung ke kota Baghdad, segenap penduduk kota itu dihinggapi rasa cemas. Sebagai kota yang dikenal banyak dihuni para cendekiawan, Ulama dan Ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu, kedatangannya jelas tak dibutuhkan. Anggapan ini muncul karena ketakutan yang berlebihan, bahwa kehadirannya akan menjadi pesaing bagi mereka.

Atas desakan ilmuwan dan agamawan, pemegang otoritas kota kemudian mengutus seorang kurir untuk mengantarkan cawan berisi air agar disampaikan kepada Syaikh Abdul Qadir yang masih berada di luar kota. Cawan berisi air itu sebagai tanda bahwa kota Baghdad sudah penuh sesak dengan para ilmuwan dan tokoh agama hingga kehadirannya tidak dibutuhkan.

Beliau paham betul pesan di balik secawan air yang dikirim kepadanya. Ia kemudian mengambil setangkai  setangkai bunga mawar dan meletakkannya di atas air, seraya meminta si kurirmembawa kembali cawan itu. ” Tolong kembalikan cawan ini kepada mereka yang mengutusmu kemari”. Demikian pesan Syaikh kepada si kurir

Sesampai di kota, para cendekiawan dan pemuka agama dibuat terkejut melihat si kurir membawa kembali  cawan tersebut. Menyaksikan keelokan bunga mawar di atas cawan dan harum wangi yang dibawanya, membuat mereka sadar bahwa kehadiran seorang bijak bagai bunga mawar yang tak akan membebani siapapun. Kebijakan seorang sufi justru menawarkan kegairahan dan kesegaran baru, bagai air yang tak lagi tawar karena aroma mawar di atasnya.

Bekerja Tanpa Pamrih.

Cerita ini cukup populer di dunia sufistik. Dalam sebuah perjalan sebuah inspeksi ke beberapa daerah, seorang khalifah sebuah negri melihat seorang petani tua sedang menyirami tanaman anggur di kebunnya. Sang khalifah kemudian menghampiri si petani dan menegur, ” Tahukah bapak, bahwa jenis anggur yang bapak tanam adalah jenis anggur yang khas dan langka serta tidak akan berbuah sebelum usia di atas 6 tahun”. Si petani menjawab, ” Benar paduka. Jenis anggur ini memang lama berbuahnya, bahkan bisa sampai 7 tahun baru berbuah”. ” Dan kau tetap tanam?”, tanya khalifah heran. ” Ya paduka, karena jenis ini adalah jenis anggur terbaik”, jawab si petani.

Khalifah kemudian turun dari kuda menghampiri petani sambil menepuk pundaknya dan mengatakan, ” Temanku, Maha Besar Allah. Semoga Allah menganugerahimu usia panjang. Karena bagaimanapun, bisa jadi lusa kita tak pernah lagi bertemu. Jadi, apa sebenarnya yang membuat bapak tetap menanam anggur yang belum tentu bapak nikmati?”.

“Paduka, memang benar adanya. Mungkin saya tak akan menikmati hasil tanaman ini. Bisa jadi saat tanaman ini berbuah saya sudah meninggal. Namun kematian saya tidak berarti berakhirnya kehidupan dunia ini.. Anak cucu saya, tetangga dan teman-teman saya, diantara mereka pasti ada yang masih hidup. Kelak merekalah yang akan menikmati hasilnya”. Demikian penjelasan petani kepada sang khalifah.

Sang khalifah terharu.” Maha Besar Allah. Kau berhati mulia. Kau melakukan sesuatu tidak untuk dirimu sendiri. Kau bekerja tanpa pamrih. Teman, kelak jika tanaman ini berbuah dan kita masih hidup, bawakan saya sekeranjang hasil tanamanmu, sebagai saksi persahabatan kita ini”. Begitu khalifah menutup perjumpaannya dengan si petani tua itu dan pergi melanjutkan perjalanan.

Konon beberapa tahun kemudian, tanaman anggur itu berbuah. Petani itu kemudian menyiapkan sekeranjang anggur untuk sang khalifah, sebagaimana permintaannya dulu. Diceritakan oleh para ahli hikmah, khalifah sangat menghargai ketulusan jiwa petani itu. Ia sangat mengagumi kedermawanan dan perbuatannya yang tanpa pamrih. Setelah memindahkan anggur ke wadah yang terbuat dari emas, beliau memerintahkan kepada mentrinya untuk mengisi keranjang itu dengan emas permata dan memberikannya kepada si petani, sebagai imbalan atas kebaikannya yang memberi inspirasi bagi sebuah keteladanan yang patut ditiru.

Sementara itu, cerita ini tersebar ke seantero negri dengan berbagai macam versi. Bahkan beredar cerita bahwa khalifah sangat menyukai jenis anggur yang dihadiahkan kepadanya, hingga berani membayar mahal.

Seorang petani lain, yang kebetulan mendengar cerita versi terakhir, langsung menyiapkan sekeranjang anggur jenis yang sama untuk dihadiahkan kepada khalifah. Dan sudah tentu, dengan harapan ia akan mendapatkan  seperti apa yang telah didapat petani tua itu. Sayang, ia tak mendapatkan apa yang diinginkannya. Khalifah memahami kekecewaan si petani dan berkata,”Petani tua itu bekerja tanpa pamrih. Kedatangannya kemari juga tanpa harapan apapun. Ia menghadiahkan anggur itu kepada saya. Kamu lain. Kamu kesini dengan harapan. Kamu berdagang dengan saya. Itulah letak perbedaannya. Namun demikian, saya tetap hargai lebih apa yang kau bawa. Janganlah mengharap imbalan yang sama dengan petani tua itu. Kamu belum, memiliki jiwa dan semangat bekerja tanpa pamrih”.

Add comment April 8th, 2007

Bermalam Di Rumah Seorang Ahli Surga

Anas Ibn Malik ra, menceritakan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Al-Nasa’i, perihal orang yang disebut-sebut sebagai penghuni surga.

Diceritakan oleh Anas ra, “Suatu hari kami bersama para sahabat yg lain duduk dalam satu majlis bersama Rasulullah SAW. Di tengah-tengah memberi wejangan, beliau berkata, “Sebentar lagi akan lewat di hadapan kalian seorang lelaki penghuni surga”. Tak lama berselang, tiba-tiba muncul seorang lelaki anshar dengan janggut masih basah oleh air wudlu. Ia berjalan dg tangan kiri menjinjing sandal”.

Keesokan harinya dalam kesempatan yg sama, Rasulullah kembali berkata begitu, “Akan datang seorang lelaki penghuni surga”. Tak lama kemudian, lelaki itu kembali muncul. Dalam kesempatan yg lain, untuk ketiga kalinya Rasulullah mengatakan hal yang sama.

Demi menghapus rasa penasaran, sahabat Abdullah Ibn Amr Ibn Al-Ash mencoba membuntuti lelaki anshar yang disebut-sebut Rasulullah sebagai penghuni surga. Ibnu Amr berhenti sejenak sambil berpikir mencari alasan yang tepat untuk dapat menyelidiki orang itu. Setelah menemukan alasan yang tepat, ia menghentikan langkah lelaki itu dan berkata, “Wahai kawan, dapatkah kamu memberi pertolongan? aku bertengkar dengan ayahku dan berjanji tidak akan menemuinya selama tiga hari. Maukah kamu memberi tumpangan selama tiga hari itu?”, pinta Ibn Amr. Setelah diperbolehkan, Ibn Amr mengikuti lelaki itu menuju rumahnya dan bermalam di rumah itu selama 3 hari.

Tujuan Ibn Amr bermalam tidak lain agar ia dapat melihat, apa gerangan ibadah yang dilakukan orang itu hingga Rasulullah menyebutnya sebagai penghuni surga. Sampai dengan malam ketiga, Ibnu Amr tak melihat sesuatu yg istimewa dari lelaki itu dalam ibadahnya, sampai ia hampir saja meremehkan amalan ibadah lelaki itu. Akhirnya Ibn Amr berterus terang kepadanya, “Hai hamba Allah, sebenarnya aku tidak sedang bertengkar dg ayahku dan juga tdk sedang bermusuhan. Aku hanya ingin membuktikan apa yang telah dikatakan Rasulullah tentang dirimu. Beliau katakan dalam sebuah majlis sampai 3 kali, “Akan datang seorang di antara kalian lelaki sebagai penghuni surga”. Aku ingin tau, apa amalan yang membuatmu demikian dan aku ingin menirukan agar bisa mencapai kedudukan seperti dirimu”.

Orang itu berkata, “Yang aku amalkan setiap hari tak lebih dari apa yang kau saksikan”. Saat Ibn Amr hendak berpamitan pulang, orang itu kembali berkata, “Demi Allah, amalku tidak lebih dari yang kau lihat. Hanya saja aku tak pernah menyimpan niat buruk terhadap sesama muslim ( juga yg lain). Aku juga tak pernah ada rasa dengki kepada mereka yang mendapat anugerah dan kebaikan dari Allah”. Mendengar pernyataan itu, Ibn Amr membalas, “Begitu bersihnya hatimu dari prasangka buruk dan perasaan dengki kepada orang lain. Inilah nampaknya yang membuatmu berada di tempat yang mulia itu. Sesuatu yang tak dapat aku lakukan”.

Hati yang bersih dari prasangka buruk dan perasaan dengki kepada sesama hamba Allah, terlihat sederhana. Tapi justru itulah yang sebenarnya paling sulit dilakukan. Barangkali kita mampu Qiyamullail, sujud, rukuk di hadapanNya, tapi amat sulit menghilangkan kedengkian kepada orang lain hanya karena perbedaan keyakinan, paham, golongan atau etnis. Juga kedengkian yang timbul dari apa yang Allah anugerahkan sesuatu kepada orang lain dan kita tak mendapatkannya. ” Inilah justru yang tidak dapat kita lakukan”, demikian kata Abdullah Ibn Amr Ibn Al-Ash.  ( Sumber bacaan : Hayat Al-Shahabah :2 )

Add comment April 8th, 2007

Menggugat Poligami, Menegakkan Keadilan

Poligini, atau yg lebih dikenal dengan poligami beberapa bulan terakhir sempat menjadi perbincangan hangat dan menarik di kalangan masyarakat, menyusul berita pernikahan kedua Kyai kondang, Abdullah Gimnastiar, yang diekspos secara besar-besaran oleh berbagai media, baik cetak maupun elektronik. Mengingat keberadaan Aa’Gym, demikian ia biasa disapa, telah menjadi public figure, segala hal yang menyangkut kehidupan pribadinya tidak pernah luput dari incaran para paparazzi, sang pemburu berita. Peristiwa ini memang telah membawa implikasi yang luar biasa bagi banyak orang,terutama mereka yang selama ini mengidolakannya, berbalik membenci dan menghujat sang kyai. Adakah yang salah dengan poligami? Barangkali pertanyaan tersebut layak mengemuka, terlepas bahwa pernikahan itu sendiri mendapat ridho dari istri pertamanya, Mumu Muthmainah.

Praktek poligami sebenarnya bukan barang baru, bahkan keberadaannya hampir sama dengan usia peradaban manusia itu sendiri. Sebelum Islam datang, poligami telah dikenal dan dipraktekkan oleh umat manusia di penjuru dunia. Orang-orang Romawi, Persia,Yahudi, China, India juga Arab pada masa pra Islam telah mengenal dan mengembangkan poligami. Baru ketika Islam datang, praktek poligami mulai mendapat perhatian serius, mengingat keberadaannya yang bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Islam yang mengedepankan keadilan, kesetaraan dan persamaan derajat umat manusia di hadapan Tuhan. Meski demikian, tidaklah mudah menghapus apa yang sudah menjadi kebiasaan masyarakat, sehingga Islam perlu memberi rambu-rambu dan aturan yang ketat bagi praktek poligami, baik mengenaio batasan jumlah maupun mengenai prinsip-prinsip keadilan yang harus diprioritaskan untuk dipenuhi bagi pelaku poligami.

Mampukah seorang suami berlaku adil bagi istri-istrinya?. Banyak kalangan berbeda pendapat mengenai syarat adil bagi laki-laki yang berpoligami. Mereka yang setuju dengan praktek poligami melihat adil dalam konteks syariat Islam adalah dalam hal materi (lahiriyah),bukan immateri (batiniyah), walaupun masalah immateri harus tetap diupayakan demi mendukung pencapaian rasa keadilan secara utuh. Mereka juga selalu menggunakan ayat QS: Al-Nisaa:3 sebagai senjata ampuh atas pembenaran pendapatnya tanpa memperhatikan aspek lain yang turut melatar belakangi turunnya ayat tersebut. Padahal kalau mau sedikit bijak memahami ayat di atas, perkawinan monogami jauh lebih menjamin keadilan dan terhindar dari kemungkinan tindak aniaya.

Sindiran Allah SWT kepada manusia yang tidak akan mampu berlaku adil (QS:Al-Nisaa:129) harusnya menjadi pepeling sekaligus rem bagi mereka yang ingin berpoligami, karena mereka tak akan pernah mampu berbuat adil, terutama keadilan batiniyah yang mungkin hanya bisa dilakukan oleh Rasulullah.

Lalu, bagaimana sebenarnya hukum poligami dalam Islam?. Islam memang membolehkan poligami dengan syarat-syarat tertentu yang semuanya bermuara pada prinsip-prinsip keadilan sebagaimana misi Islam yang menjunjung tinggi keadilan sesama dan nilai-nilai kemanusiaan yang bermartabat. Keadilan inilah yang akan dapat mewujudkan kedamaian dan ketentraman hidup. Kalau perkawinan tidak dapat mewujudkan keadilan, kedamaian dan ketentraman hidup berarti bertolak belakang dengan prinsip2 ajaran Islam.

Bagaimana kita menyikapi masalah ini?. Pernikahan, dalam hal ini poligami, adalah masalah fiqhiyyah yang tidak bisa tidak akan terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman sebagaimana masalah-masalah fiqhiyah yang lain. Pemahaman fiqih yang jumud dan konservatif jelas bertentangan dengan semangat Ijtihad bagi membangun tatanan kehidupan beragama yang lebih baik dan beradab dengan tetap berpegang teguh pada prinsip beragama yang hanif. Berbicara poligami tidaklah adil dan fair kalau hanya menggunakan 1 ayat dalam memahami masalah perkawinan, sementara ada sekitar 140 ayat yang membicarakan masalah tersebut dan memiliki relevansi dengan pembahasan masalah terkait. Kalau perbudakan, yang pada awal Islam diperbolehkan saja bisa dihapus, kenapa tidak dengan poligami?

Walllahu A’lam bi Al-Shawab.

Add comment April 7th, 2007

Previous Posts


Pages

Calendar

September 2010
S A S S R K J
« Sep    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Posts by Month

Posts by Category